AKU, KAU DAN KOPI


Pernikahan kita membutuhkan kopi. Perjalanan rumah tangga kita nanti juga sama. Di hari -hari menjelang pernikahan kita nanti, orang -orang itu yang berkumpul dan  membicarakan kita, setelah meminum arak dan tuak sebagai tanda kesepakatan hubungan kita, mereka akan larut dalam percakapan di bawah tenda sembari minum kopi. Keluargaku dan keluargamu menjalin keakraban melalui kopi hari itu. Keluargaku akan mengagumi cantikmu dalam senda gurau, sedangkan yang lain bertanya-tanya tentang pekerjaanku, sambil mencicipi kue- kue yang tersaji.

Selama aku bertandang ke rumahmu, kau tak sering menghidangkanku kopi. Tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu. Selain menanyakan makan, engkau juga tak pernah menanyakan kopi. Tapi akupun tak pernah mengeluhkan hal itu. Saat itu, minum kopi belumlah menjadi peristiwa penting dalam hubungan kita.

Kau tentu tak mengehendaki adalah hal-hal yang kututupi dalam pernikahan kita nanti. Satu-satu nya rahasiaku adalah kopi. Aku begitu menyukai kopi. Meminumnya setiap pagi dan sore, juga di setiap waktu yang menyempatkan untuk itu.

Dalam rumah tangga kita nanti, tak perlu ada kopi sachet-an. Aku tidak menyukai kopi model itu. Kadar gula dan kopi  dalam kopi sachet-an itu diatur oleh orang lain. Aku menginginkan kadar kopi dan gula dalam kopiku diatur oleh kamu. Sangat besar harapanku, engkau memahami waktu-waktu minum kopiku selain pagi dan sore. Setelah itu, engkau mulai berpikir bahwa terkadang aku juga membutuhkan kue buatan tanganmu sebagi teman minum  kopi.

Aku tidak akan memaksamu meminum kopi sama denganku. Kau bebas meminum apa pun yang kau suka, minum teh misalnya.

Minumlah disampingku, tidak untuk setiap hari. Tapi di saat-saat penting  seperti membicarakan pekerjaan, rumah, keuangan dan juga anak-anak kita. Uang sekolah mereka, baju baru untuk hari raya,juga di saat aku membutuhkanmu di sisiku dan tentang peristiwa politik, gosip para artis dan juga masalah orang. Karena aku yakin perempuan sepertimu akan selalu peka terhadap beberapa hal yang belum beres dalam rumah, seperti menjahit baju yang sobek, mencuci taplak meja yang ketumpahan susu anak kita, dan hal-hal yang hanya bisa dipahami seorang ibu juga seorang istri.

Aku yakin, kelak di  pasar, kau akan menemukan cangkir yang cocok untuk mengisi kopiku. Sebuah cangkir yang hanya diisi dengan kopi untukku, orang lain yang berkunjung ke rumah bahkan anak-anak kita akan kau larang meminum dari cangkir itu.

Kau tak perlu tahu, aku mengatakan aku mencintaimu setiap kali menatap cangkir berisi kopi itu. Kau pun tak perlu menyatakannya, karena akupun percaya, secangkir kopi setiap  hari adalah bukti kau begitu mencintaiku.

Akan ada waktunya, kau memintaku  mengurangi minum kopi bahkan menyuruhku berhenti. Aku memahami itu, tapi jangan dulu, akan ada waktunya aku berhenti minum kopi. Mungkin setelah menemukan cara baru mengatakan aku mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkanya sekarang. Saat ini bayangan hanya sampai di hari tua di teras rumah bersamamu.

Jika kau marah atau pun cemburu, tetaplah membuat kopi untukku. Aku tak bisa membayangkan satu hari tanpa kopi buatan tanganmu. Atau bagaimana jika karena peristiwa tanpa kopimu satu hari itu, membuatku mulai terbiasa dengan warung kopi. Apa jadinya jika aku mulai terbiasa berlama- lama di sana, mulai terbiasa dengan orang-orang yang aku temui di sana, mulai terbiasa dengan kopi buatan perempuan penjaga warung kopi itu.

Barangkali aku juga bisa berubah menjadi lelaki berengsek karena menemukan hal-hal yang membuatku nyaman di luar rumah. Mulai sering mengajak orang lain menemaniku minum kopi. Sulit rasanya membayangkan hal- hal buruk dalam rumah tangga kita karena secangkir kopi.

Tapi aku juga tak bisa menjadikanmu perempuan shyadu, yang hanya menunggu di rumah, melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah sendirian, sambil menerka- nerka kapan aku pulang, agar secangkir kopi selalu tepat tersedia. Mengekangmu lewat kecup dan kecup sebelum dan sesudah meminum kopi dalam pergi  dan pulang kerja.

Aku bukan tipikal lelaki macam itu. Engkau bebas melakukan pekerjaanmu. Pekerjaan rumah tangga kita akan kita lakukan bersama. Engkau memasak, aku yang mencuci piring, engkau yang mencuci aku yang menjemur pakaiannya. Kita juga akan membersihkan rumah bersama. Aku tak akan membiarkan kau melakukannya sendiri.

Tapi jangan pernah memintaku membuat kopi sendiri.

                                                                                      

 

 

Comments

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal

KUANTUM SENJA