KUANTUM SENJA


Catatan Perjalanan ke Banyuwangi (4): Menyapa Pagi dari Pantai ... 

Pada senja kali, saya memilih duduk sendiri di tepi pantai dengan segelas kopi sebagai teman hangat di satu kedai di antara deret-deret kedai yang tersusun sepanjang pantai. Di pantai ini, matahari senja tidak terlihat langsung. Yang ada  hanya rona dan biasnya pada gumpalan awan yang bergerak terpisah di langit. Pada kesempatan ini, saya menyandarkan tubuh di bale-bale’ sembari melonggarkan kaki.

Ingatan saya pulang pada senja yang sudah-sudah. Senja di bukit  Yesus Maria Oebelo bersama kekasih ketika memandang laut Sawu dan perahu-perahu nelayan yang berjejer sepanjang pantai dan sebuah kapal minyak sedang lewat waktu itu. Saya membelai rambut kekasih lembut seperti angin sore yang menyentuh daun-daun nyiur. Setelah itu kami larut dalam doa sampai senja selesai.

Ada juga senja yang saya nikmati kala belajar fotografi di pantai Teddy’S. Waktu itu, saya tidak sengaja menyaksikan sepasang kekasih saling mencumbu di bawa remang merah matahari.

Melewatkan senja  di Bukit Cinta dengan teman-teman kala menghabiskan arak sambil bermain musik dan bernyanyi, menatap senja di Bukit Baumata tatkala menyaksikan pesawat datang dan pergi di Bandara Penfui. Ada juga senja yang kulalui di jalanan ketika berkelana mengeliling Kota Kupang dengan Supra bututku.

Saya juga teringat kala berdiskusi dengan seorang pegiat literasi di Kota saya, di sela- sela diskusi itu dia bercerita pengalamannya tentang senja.

“Hari-hari ini  semua orang tergila- gila dengan senja, saya juga” katanya,

“Setiap orang menyukai senja yang sama hanya menikmatinya dengan cara berbeda.  Aku suka memandang senja dari gelas kaca, atau botol air mineral,  dari sana senja yang aku nikmati berbeda dari senja orang lain”tuturnya.

Mengingat kisah itu, saya mencoba menirukan cara dia menikmati senja, saya seruput kopi untuk memberi ruang menatap dari bibir gelas,” kurang menarik saya membatin”, tak ada istimewanya memandang senja dari sini. Saya meletakan lagi kopi itu.

Saya  pun teringat ketika  pulang dari Hokeng, desa Tante yang terletak di lembah gunung Lewotobi. Kala itu, senja dengan mentari bulat dan keemasannya benar-benar bertengger di belahan gunung kembar itu. Saya terpesona, kuparkirkan sepeda motor lalu mengabadikan senja itu dengan kamera. Indah!.

Saya pun berlomba dengan senja hari itu, untuk menikmatinya dari persawahan desa Konga. Desa dengan persawahan mirip dalam FTV yang biasa saya tonton jaman kuliah dulu. Persawahan dengan jalan utama terletak di tengahnya. Para petani yang pulang dengan bersepeda dan memanggul jerami, gembala sapi dan semua saja yang berbau pedesaan.

Kala itu saya sedikit terlambat. Setiba saya di jembatan mentari telah benar-benar tenggelam, akan tetapi jingga langit itu, belum sepenuhnya menghilang.

Hari itu saya benar-benar merasa sebagai pemburu senja. 


Ada juga senja di Kawaliwu dengan lautan lepasnya, sembari menyaksikan juga emak-emak membuat garam. Kala itu senja tambah nikmat dalam senyum dan tawa renyah mereka. Mereka menertawakan orang-orang seperti saya, yang datang ke pantai itu hanya untuk menyaksikan senja.

Ternyata senja-senja itu tak kalah dari senja di Bali, senja di daerah –daerah yang biasa diambil sebagai latar foto di Instragram, Facebook, dan Status-status Whatsapp. Ada Seluet orang memegang mentari, sepasang kekasih, senja di lautan, senja di atas batu, senja dari apartemen, dan senja -senja indah lainnya.

Seberang  pantai ini, ada Pulau Adonara. Senja juga indah apabila di tatap dari sana. Apalagi menikmatinya di atas perahu melewati arus Gonsalu yang ganas. 

Pernah sekali, ketika pulang dari Adonara,  saya menumpang perahu di Pantai Tana Mera. Dari sana mentari sedang terbenam di sisi kiri gunung Ile Mandiri. Warna merahnya yang silau, perlahan memudar kala perahu mulai menepi di dermaga Pante Palo. Bias senja di dermaga itu, mirip senja yang sedang saya tatap sekarang.

Terkadang saya merasa kini senja  tak lagi istimewa. Senja dapat dengan mudah temukan di Youtube, menulis senja di kolom pencarian google akan menghasilkan begitu banyak ulasan dan foto tentang senja. Ada begitu banyak puisi dan cerpen tentang senja. 

Saya pun  teringat sebuah cerpen lawas berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku” yang ditulis oleh Seno Gumira puluhan tahun silam. Tentang Ia yang memotret sepotong senja dan terjadi lubang sebesar potret di langit senja itu, membawa lari dan dikejar oleh polisi seperti seorang penjahat besar. Dia yang memilih masuk ke dalam gorong-gorong dan menemukan senja yang lain di tempat berbeda, memotretnya lagi lalu  menukar dan menutup senja yang asli dengan potret senja di tempat yang baru Ia temui itu.

Ia dalam cerita senja itu adalah Tokoh yang egois. Ia menjadi lebih egois dari seseorang yang memilih melihat senja dari gelas. Dia bahkan lebih egois dari seluet seseorang yang memegang mentari seperti senja di Facebook maupun Instagram  dan senja senja yang bertebaran di google, Ia bahkan lebih egois dari pada orang yang lebih mementingkan untuk menyaksikan senja dari tempat berbeda tanpa memikirkan keselamatan berkendara. Saya pun menggerutu dalam lamunan sore ini.

Seno tidak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang disekitar yang menyaksikan senja dengan tidak lengkap. Mentari sore tanpa ronanya ataupun rona sore yang tanpa diketahui keberadaan mentarinya. Atau pun tentang perasaan pengemis yang mengantarnya ke senja baru. Ia mungkin tak bertanya bahwa senja di dalam gorong-gorong itu milik pengemis dan teman-temannya untuk menghibur letih, dan kini tak lagi lengkap.

Para polisi yang mengejarnya itu, jurnalis yang membicarakanya di TV, atau pun politisi yang mencoba mengambil bagian, mungkin juga membutuhkan senja sebagai obat atas rutinitas dan segala tekanan. Ia mencuri senja yang bebas dan gratis hanya untuk kekasih yang barangkali terlampau sibuk  untuk sekadar menikmati senja dengan minum kopi di pantai.

Terlalu berhayal, kopi saya dingin. Saya pun meneguk kopi hingga selesai, membayar lalu pulang meninggalkan senja yang hampir menghilang.

Senja memang jahat. Dalam rentang waktu yang sedikit itu, dia menawarkan begitu banyak pilihan untuk menyaksikannya. Senja menciptakan dunianya, para penikmat terjebak di dalamnya seperti  kuantum dalam Ant Men atau Avenger End Game.

Apabila senja bisa diulang, saya mau memilih menyaksikannya di Bukit Yesus Maria Oebelo sambil membelai lagi rambut kekasih dan  larut dalam doa hingga senja selesai.


Comments

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal