KUANTUM SENJA
Pada
senja kali, saya memilih duduk sendiri di tepi pantai dengan segelas kopi
sebagai teman hangat di satu kedai di antara deret-deret kedai yang tersusun
sepanjang pantai. Di pantai ini, matahari senja tidak terlihat langsung. Yang
ada hanya rona dan biasnya pada gumpalan
awan yang bergerak terpisah di langit. Pada kesempatan ini, saya menyandarkan
tubuh di bale-bale’ sembari melonggarkan
kaki.
Ingatan
saya pulang pada senja yang sudah-sudah. Senja di bukit Yesus Maria Oebelo bersama kekasih ketika
memandang laut Sawu dan perahu-perahu nelayan yang berjejer sepanjang pantai
dan sebuah kapal minyak sedang lewat waktu itu. Saya membelai rambut kekasih
lembut seperti angin sore yang menyentuh daun-daun nyiur. Setelah itu kami
larut dalam doa sampai senja selesai.
Ada
juga senja yang saya nikmati kala belajar fotografi di pantai Teddy’S. Waktu itu, saya tidak sengaja
menyaksikan sepasang kekasih saling mencumbu di bawa remang merah matahari.
Melewatkan
senja di Bukit Cinta dengan teman-teman
kala menghabiskan arak sambil bermain
musik dan bernyanyi, menatap senja di Bukit Baumata tatkala menyaksikan pesawat
datang dan pergi di Bandara Penfui. Ada juga senja yang kulalui di jalanan
ketika berkelana mengeliling Kota Kupang dengan Supra bututku.
Saya
juga teringat kala berdiskusi dengan seorang pegiat literasi di Kota saya, di
sela- sela diskusi itu dia bercerita pengalamannya tentang senja.
“Hari-hari
ini semua orang tergila- gila dengan
senja, saya juga” katanya,
“Setiap
orang menyukai senja yang sama hanya menikmatinya dengan cara berbeda. Aku suka memandang senja dari gelas kaca,
atau botol air mineral, dari sana senja
yang aku nikmati berbeda dari senja orang lain”tuturnya.
Mengingat
kisah itu, saya mencoba menirukan cara dia menikmati senja, saya seruput kopi
untuk memberi ruang menatap dari bibir gelas,” kurang menarik saya membatin”,
tak ada istimewanya memandang senja dari sini. Saya meletakan lagi kopi itu.
Saya
pun teringat ketika pulang dari Hokeng, desa Tante yang terletak di
lembah gunung Lewotobi. Kala itu, senja dengan mentari bulat dan keemasannya
benar-benar bertengger di belahan gunung kembar itu. Saya terpesona,
kuparkirkan sepeda motor lalu mengabadikan senja itu dengan kamera. Indah!.
Saya
pun berlomba dengan senja hari itu, untuk menikmatinya dari persawahan desa
Konga. Desa dengan persawahan mirip dalam FTV yang biasa saya tonton jaman kuliah dulu. Persawahan
dengan jalan utama terletak di tengahnya. Para petani yang pulang dengan bersepeda
dan memanggul jerami, gembala sapi dan semua saja yang berbau pedesaan.
Kala
itu saya sedikit terlambat. Setiba saya di jembatan mentari telah benar-benar
tenggelam, akan tetapi jingga langit itu, belum sepenuhnya menghilang.
Hari
itu saya benar-benar merasa sebagai pemburu senja.
Ada juga senja di Kawaliwu dengan lautan lepasnya, sembari menyaksikan juga emak-emak membuat garam. Kala itu senja tambah nikmat dalam senyum dan tawa renyah mereka. Mereka menertawakan orang-orang seperti saya, yang datang ke pantai itu hanya untuk menyaksikan senja.
Ternyata
senja-senja itu tak kalah dari senja di Bali, senja di daerah –daerah yang
biasa diambil sebagai latar foto di Instragram,
Facebook, dan Status-status Whatsapp. Ada Seluet orang memegang mentari,
sepasang kekasih, senja di lautan, senja di atas batu, senja dari apartemen,
dan senja -senja indah lainnya.
Seberang pantai ini, ada Pulau Adonara. Senja juga indah
apabila di tatap dari sana. Apalagi menikmatinya di atas perahu melewati arus Gonsalu
yang ganas.
Pernah sekali, ketika pulang dari Adonara, saya menumpang perahu di Pantai Tana Mera. Dari sana mentari sedang terbenam di sisi kiri gunung Ile Mandiri. Warna merahnya yang silau, perlahan memudar kala perahu mulai menepi di dermaga Pante Palo. Bias senja di dermaga itu, mirip senja yang sedang saya tatap sekarang.
Pernah sekali, ketika pulang dari Adonara, saya menumpang perahu di Pantai Tana Mera. Dari sana mentari sedang terbenam di sisi kiri gunung Ile Mandiri. Warna merahnya yang silau, perlahan memudar kala perahu mulai menepi di dermaga Pante Palo. Bias senja di dermaga itu, mirip senja yang sedang saya tatap sekarang.
Terkadang
saya merasa kini senja tak lagi
istimewa. Senja dapat dengan mudah temukan di Youtube, menulis senja di kolom pencarian google akan menghasilkan begitu banyak ulasan dan foto tentang
senja. Ada begitu banyak puisi dan cerpen tentang senja.
Saya pun teringat sebuah cerpen lawas berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku” yang ditulis oleh Seno Gumira puluhan tahun silam. Tentang Ia yang memotret sepotong senja dan terjadi lubang sebesar potret di langit senja itu, membawa lari dan dikejar oleh polisi seperti seorang penjahat besar. Dia yang memilih masuk ke dalam gorong-gorong dan menemukan senja yang lain di tempat berbeda, memotretnya lagi lalu menukar dan menutup senja yang asli dengan potret senja di tempat yang baru Ia temui itu.
Saya pun teringat sebuah cerpen lawas berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku” yang ditulis oleh Seno Gumira puluhan tahun silam. Tentang Ia yang memotret sepotong senja dan terjadi lubang sebesar potret di langit senja itu, membawa lari dan dikejar oleh polisi seperti seorang penjahat besar. Dia yang memilih masuk ke dalam gorong-gorong dan menemukan senja yang lain di tempat berbeda, memotretnya lagi lalu menukar dan menutup senja yang asli dengan potret senja di tempat yang baru Ia temui itu.
Ia
dalam cerita senja itu adalah Tokoh yang egois. Ia menjadi lebih egois dari
seseorang yang memilih melihat senja dari gelas. Dia bahkan lebih egois dari
seluet seseorang yang memegang mentari seperti senja di Facebook maupun Instagram dan senja senja yang bertebaran di google, Ia bahkan lebih egois dari pada
orang yang lebih mementingkan untuk menyaksikan senja dari tempat berbeda tanpa
memikirkan keselamatan berkendara. Saya pun menggerutu dalam lamunan sore ini.
Seno
tidak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang disekitar yang menyaksikan
senja dengan tidak lengkap. Mentari sore tanpa ronanya ataupun rona sore yang
tanpa diketahui keberadaan mentarinya. Atau pun tentang perasaan pengemis yang
mengantarnya ke senja baru. Ia mungkin tak bertanya bahwa senja di dalam
gorong-gorong itu milik pengemis dan teman-temannya untuk menghibur letih, dan
kini tak lagi lengkap.
Para
polisi yang mengejarnya itu, jurnalis yang membicarakanya di TV, atau pun
politisi yang mencoba mengambil bagian, mungkin juga membutuhkan senja sebagai
obat atas rutinitas dan segala tekanan. Ia mencuri senja yang bebas dan gratis
hanya untuk kekasih yang barangkali terlampau sibuk untuk sekadar menikmati senja dengan minum
kopi di pantai.
Terlalu
berhayal, kopi saya dingin. Saya pun meneguk kopi hingga selesai, membayar lalu
pulang meninggalkan senja yang hampir menghilang.
Senja
memang jahat. Dalam rentang waktu yang sedikit itu, dia menawarkan begitu
banyak pilihan untuk menyaksikannya. Senja menciptakan dunianya, para penikmat
terjebak di dalamnya seperti kuantum
dalam Ant Men atau Avenger End Game.
Apabila
senja bisa diulang, saya mau memilih menyaksikannya di Bukit Yesus Maria Oebelo
sambil membelai lagi rambut kekasih dan larut dalam doa hingga senja selesai.
Comments
Post a Comment