MINUM KOPI SORE


(Diazyanto Ryan)

Di teras rumah ada dua kursi kayu dan satu meja kayu. Dua kursi tersusun berdampingan menghadap ke jalan sedang meja ada di tengahnya. Di meja ada taplak merah muda, satu asbak dari cangkang kerang dan  satu vas berisi bunga mawar plastik berwarna merah. Sebuah lampu hias tua merah kusam bertengger di dinding dekat pintu utama. Satu bola lampu di langit-langit rumah. Di sudut kanan rumah, ada labah-labah mulai mengayam sarangnya. Bunga-bunga hijau berderet-deret di tepi teras seperti menyembunyikan rumah dari tatapan langsung  orang-orang yang saban hari melintas di jalan depan rumah itu.

Lebih jauh, sedikit ke halaman, ada dua pohon mangga udang, satu pohon cermelek, satu pohon limau, rumput pancasila, ada juga beberapa rumput liar, di samping kanan  dekat  pagar pembatas rumah tetangga ada tiang parabola, setumpuk batu hutan, batu bata, jubin pecah tertumpuk amat rapih di bawanya  di dekat itu ada juga pohon Delima dan pot dengan bunga-bunga hijau yang banyak juga jumlahnya.  Di sebelah kiri ada rabat kecil sepanjang 2 meter  menuju teras yang tepinya ditanami bunga sebagai pembatas. Di atasnya beberapa daun mangga dan sepasang sendal bertali biru berbaris tidak rapi berhadapan dengan pintu utama.

Di meja tadi, seseorang baru saja menaruh segelas kopi dan kembali ke dalam rumah. Di  jalan segerombolan bocah  melintas sambil menendang-nendang bola, diikuti perempuan parubaya menenteng sebuah kantong hitam besar dan seorang pengendara sepeda motor,tukang sol sepatu, dua anak remaja yang salah satunya memakai topi, satu ekor ayam galu besar melintas tergesa-gesa dikejar oleh dua orang bocah, mungkin teman dari bocah-bocah tadi. Orang tadi yang menaruh kopi kembali ke teras. Dia duduk di kursi dekat pintu utama, antara dia dan pintu, bergelantungan lampu merah kusam tadi. Orang itu  mengenakan  singlet dan kain lipah. 

Di samping gelas kopi, dia menaruh sebungkus kokok, tangannya  menggeser vas bunga dan menarik maju Asbak kerang untuk lebih dekat dengan kopi dan rokoknya. Dia mengambil sebatang rokok tapi segera menaruhnya lagi.

Dia masuk ke dalam rumah. Beberapa daun cermelek dan dua daun mangga kering gugur. Seorang anak melintas dengan sepeda. Lelaki itu kembali, dan duduk di kursi tadi yang dia duduki. Sebatang rokok tadi dia ambil lagi dan  dibakar lalu menyeruput  kopi di meja itu.

Di jalan sebuah sedan abu-abu melintas membunyikan klakson, anak bersepeda tadi melintas lewat lagi di depan rumah itu. Asap rokok terlihat mengumpal keluar dari mulut lelaki itu. Rokok dia taruh di asbak dan kopi pun kembali dia seruput namun sedikit tersedak. Dia meletakkan kembali kopi lalu menyeka-nyeka pelan singletnya. Ia ambil lagi rokok, berdiri dan dia berjalan. Tatapannya  serius. Dia mengampiri satu pot bunga di sudut berhadapan dengan pintu utama. Rokok kembali dia hisap, kemudian mencabut daun bunga yang mengering dan membuangnya di rabat, tempat tiga daun mangga dan sendal jepit berbaris. Seorang pria yang melintasi jalan itu, menyapanya. Dia kemudian membalas. Kakinya melangkah ke Asoka. Ia menyimak sebentar lalu kembali duduk.
Kopi dia seruput lagi, kali ini agak panjang.

Penjual salome lewat depan rumah itu sambil mengerincingkan belnya. Penjual itu berhenti tepat di sudut rumahnya di jalan itu, beberapa bocah, tiga perempuan dewasa mengampiri penjual itu. Ada suara orang menimba air  terdengar dari rumah tetangga. Daun-daun cermelek gugur lagi tertiup sepoi angin. Dia menyeruput kopi lagi sembari memadunya dengan tarikan asap rokok. Sungguh nikmat.

Di dahan mangga udang, ada dua burung pipit hinggap lalu terbang lagi.  Kupu-kupu kuning terbang di dekat bunga-bunga halaman rumahnya. Ada seekor anjing melintas dan mendekati gerobak salome. Salah satu dari tiga perempuan dewasa itu, sontak mengelus-elus pundak  anjing itu. Terdengar seseorang orang berteriak meminta salome pada orang-orang yang mengelilingi gerobak itu. Gerobak salome pun bergerak menghilang bersama beberapa bocah. Tiga perempuan tadi pulang sambil membawa salome masing-masing, anjing tadi turut di belakang mereka. Perempuan-perempuan itu mengucapkan selamat sore padanya. Sambil memegang segelas kopi, ia pun membalas sapa mereka. Dia seruput lagi kopi itu. Sebatang rokok tadi selesai dia hisap.

Dia melihat ke arah kursi kosong di sebelahnya. Terdengar suara ayam berkokok. Ada juga bunyi lonceng gereja pertanda pukul 18.00 Wita. Dia bergegas, memakai sendal tadi dan berjalan ke arah parabola. Di dekat parabola itu, tepatnya di sebelah pohon Limau ada keran air. Dia memainkan keran air. Dia melangkah ke pohon delima, mengecek buah-buah delima yang sudah dibungkus plastik. Orang itu berbalik berjalan kembali ke teras. Dia menyeruput kopi habis sambil berdiri membelakangi jalan. Dia melangkah masuk sambil membawa gelas kopi yang sudah selesai dia minum. Segera setelah itu lampu teras menyala, lampu hias kusam tadi juga menyala.

Comments

Popular posts from this blog

kekal

KUANTUM SENJA