BONEKA HUJAN




Yang melelahkan adalah menunggu. Ia adalah cerita paling biasa dalam perjalanan cinta. Seseorang harus pergi, sedang yang lain tetap tinggal. Ditinggalkan bersama harapan untuk kembali. 

Ranty merenggangkan kaki di atas meja, sambil  memainkan remot tv, mencari acara yang dia suka ataupun sekadar menghabiskan beberapa  detik waktu dengan percuma. Dia belum mandi, sementara waktu menunjukan pukul 10.30 WITA.   Dari rupanya, dia tak punya niat untuk melakukan apa-apa hari ini. Bahkan untuk pergi ke halaman rumah. Di meja, di sebelah kakinya ada segelas energen semalam yang masih tersisa, sebuah vas bunga, dan majalah.
Dia memiringkan kepala, sambil memijitnya pelan. Terlihat jelas lebam di bawa matanya, karena kurang tidur. Rambut lurusnya acak-acakan. Tidak secantik biasanya.
***
Sejak virus corona mengambil alih hampir semua sistem hidup manusia, kedatangan adalah percakapan yang aneh. Datang menyelip juga nuansa ketakutan. Orang orang takut menerima kedatangan, orang- orang menolak kedatangan. Pelabuhan ditutup dan pesawat tak boleh juga mengudara, yang memberi arti bahwa beberapa rindu, akan tetap langgeng adanya.
Begitu pula rindu Ranty pada Sofyan.

Sejak menikah, Ranty dan Sofyan bersepakat rumah tangga mereka akan dibangun dengan cara salah satu orang harus merantau. Demi memuaskan keinginan mereka dan orangtua, maka Sofyanlah yang harus berangkat agar tidak menimbulkan pergunjingan. Dan Malaysia adalah tempat yang dipilih Sofyan untuk mengadu nasibnya.

Tahun ini, tahun kelima Sofyan meninggalkan Ranty untuk menjadi TKI di Malaysia. Dia berangkat sejak 2015 dan akan pulang pada 2020 seperti yang telah mereka sepakati. Dari Malaysia Sofyan tidak pernah absen mengirimkan uang, Sofyan dan Ranty juga saling memberi kabar, singkatnya tidak ada masalah rumah tangga yang berarti dalam rumah tangga mereka. Mungkin beberapa cemburu kecil juga sering menyelimuti. Ihwal Ranty yang cantik sering digoda lelaki di desa juga adalah hal yang biasa. Ajakan untuk berselingkuh seringkali datang, tetapi tak terbersit sedikitpun Ranty untuk menghianati Sofyan.

Sofyan mencintai Ranty. Begitu pula Ranty mencintai Sofyan. Uang bulanannya yang dikirim oleh Sofyan ditabung Ranty dengan baik. Ranty juga mulai merintis usaha dari uang itu. Dia sudah memiliki kios di desa mereka. 

Sudah beberapa bulan hati Ranty diselimuti ketakutan. Virus Corona telah lebih dahulu melanda Malaysia. Pemerintah di sana memutuskan untuk melockdown negara mereka. Itu artinya harapan untuk Sofyan pulang ke Indonesia menjadi sulit adanya. 

Tapi itu bukan yang dipikirkan Ranty. Ia hanya memikirkan keadaan Sofyan di sana. Ia hanya memikirkan agar Sofyan terhindar dan aman dari virus yang mematikan itu. Setiap hari sejak Februari mereka selalu memberi kabar. Sofyan tentu tak ingin istrinya cemas. Apalagi tersiar kabar pemerintah Malaysia akan mengusir TKI yang ada di sana, itu tentu membuat perasaan Ranty menjadi tak menentu mengenai keadaan suaminya. 

Maret berselang, pemerintah Indonesia pun mengumumkan pembatasan jarak sosial. Desa mulai membangun satgas penanganan Covid 19 atau corona itu. Banyak warga menolak kedatangan orang –orang. Hal itu hampir menciptakan kekacauan. Orang –orang yang terlanjur pulang pun di Karantina, ada juga yang ditolak oleh desa dan keluarga. Di media social orang ramai-ramai mengecam kepulangan. 

Hari itu, seperti hari-hari biasanya di tengah pandemi, Ranty menyesali kepergian Sofyan. Ia menangis. Ia tak pernah bisa tidur dengan baik. Semua berita tentang corona di televisi, percakapan warga diam-diam memantik rasa takut dan cemas dalam di dirinya setiap hari. Orang –orang bebas mengutuk dan membicarakan itu di mana saja. Bahkan di hadapan Ranty di depan kiosnya. Dan Ia pun terlihat diam seperti Boneka yang kelak akan kehujanan air mata, ketika mereka pergi, ketika suara tentang corona mulai sayup-sayup menghilang dari gendang telinga Ranty.

Ranty tahu, cerita tentang rindunya pada Sofyan bukan hal yang penting untuk dibicarakan hari ini. Ranty tahu, sesulit apapun caranya untuk pulang, Sofyan pasti akan menemukan cara untuk pulang jika dia memintanya, karena lelaki itu mencintainya. 

Ranty hanya ingin melepas rindu dengan cara yang biasa. Ia hanya ingin pergi ke pelabuhan, berdiri di sana sambil harap -harap cemas menanti Sofyan turun dari tangga kapal. Berlari kea rah suaminya kemudian memeluknya erat. Membiarkan Sofyan mengecup keningnya, Membiarkan orang-orang sekitar tahu, rindu mereka yang pernah memulai di dermaga itu juga terurai di sana. 

Karena itu, dia tak pernah meminta Sofyan pulang. Ia juga tak mau memikirkan bahwa mungkin seseorang wanita di Malaysia, mulai begitu peduli pada Sofyan atau Sofyan mulai begitu perhatian pada seorang wanita di sana. Meski bayangan itu seringkali terlintas, Ranty selalu tegas mengacuhkanya.

***
Ranty mematikan televisi, merapikan majalah itu kemudian bangun dari tempat duduknya membawa juga gelas itu. Dia masuk ke dalam  kamar setelah beberapa saat berjalan keluar, membuka pintu rumah dan membuka kios.
Wajahnya cantik.

Comments

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal

KUANTUM SENJA