Natuna dan Lawak PDIP



PDIP rupanya sedang melawak dalam upaya menghibur masyarakat Indonesia. Hasto sang sekertaris terciduk mencret setelah diduga menyuap Wahyu, sang komisioner KPU yang terlihat saleh itu. Kini salah satu penguasa wilayah jebolan PDIP, Bupati Papua itu harus gugur kala kalah  bercumbu dengan PSK sembari menunggu rakernas PDIP. Di saat itu juga, menghilanglah soal Natuna dari layar TV dari pemberitaan Koran dan media online, seperti halnya soal Jiwasraya yang menghilang karena media dan negara harus menyoal Natuna. Entah besok, peristiwa apalagi yang dikuak untuk menutupi kasus yang lain. Semisal masalah Garuda dan lainlain sajalah, karena banyak. Tapi itu urusan yang punya kepentingan sajalah, tidak perlu ribet untuk berpikir-pikir yang kalau- kalau.

Soal Natuna, saya rupanya terkesima dengan Jendral Prabowo yang santai menanggapi masalah ini. Pertama itu bisa saja merupakan strategi, kedua mungkin karena Prabowo tahu yang ada pada Natuna, bukan persoalan serius seperti yang diajukan  media, Presiden dan orangorang yang kata nasionalis dan si Susi mantan Menteri kawakan itu, yang kembali bernostalgia tentang kepiawaianya menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan dan kini tidak dipakai lagi oleh Jokowi, mengurusi Ikan, Laut dan soal-soal begitu.  

Natuna dalam polemiknya terlihat lebih masuk akal di bawa penjelasan Rocky Gerung, mengenai lahan kosong yang digarap. Bahwa hak kita sebatas duabelas mil, sisanya bebas. Bahwa Prabowo juga tak perlu repot –repot untuk membawa tentara ke sana kalau pada akhirnya nelayan juga yang dipakai untuk menghadang aseng itu. Jokowi juga tak perlu ke sana untuk membangun citra diri lagi. Santui Pak! Perang melawan Cina yang digadang itu, tidak lebih hebat dari Amerika yang berhasil membunuh sang Jendral Iran yang  kata Rocky dapat memicu perang dunia ketiga.

Perang melawan Cina hanya akan menghasilkan sengsara, sudah berhutang ke sana, ajak perang pula. Pak Presiden tidak malu, gitu? Orang Cina (TKA ) juga sudah banyak di negara kita. Tsun tsu dari dalam dan  perang terbuka dari luar, abis negara kita.

Soal PDIP, saya sebenarnya ragu, si Wahyu yang saleh itu bisa jadi tersangka suap. Hasto yang mencret itu, apa belum sembuh sehingga belum bisa di Konfirmasi keberadaannya. Misalnya di mana toilet yang dipakai, berapa tisu toilet yang dia pakai untuk mengatasi mencretnya. Bukan apa-apa, sebagai masyarakat, kita semua butuh kejelasan. Jangan-jangan yang menang Pilpres 2019 juga karena pakai sogok. mungkin tidak mungkinnya, saya pakai saja asas praduga tak bersalah agar tidak masuk penjara karena menyebar fitnah. Toh, saya tidak punya kekuatan apaapa untuk melawan hukum dan sanksi-sanksinya.

PDIP itu partai berkuasa, yang ketua umumnya Megawati juga jadi ketua BPIP. Karena itu saya juga harus memasukan Pancasila dalam soal ini. PDIP terjebak polemik ini, sebelum terlalu banyak mengelak, akui saja dulu karena pelanggaran itu, juga melanggar apa yang diminta pancasila. Jika pancasila adalah Ideologi maka PDIP sudah tidak menjalankan Ideologi pancasila karena menghalangi hak orang lain dalam kesempatan menjadi anggota dewan melalui suap, sila ke 5 mungkin. Parah!


Comments

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal

KUANTUM SENJA