TERMINAL BAYANGAN KOTA LARANTUKA






Terminal bayangan ada karena ketidakpekaan pengelolah dan pengambil kebijakan dalam menentukan  lokasi yang pas untuk membangun terminal. Sebut saja bus-bus Transtimor yang terpaksa mengambil lokasi di pasar Oesapa karena kurang mendapat penumpang di terminal utama Oebobo. Di Kota larantuka, bus-bus Transflores pun mengambil langkah mirip dengan membuat terminal bayangan di jalan depan Kantor DPRD dan Rujab Bupati Flores Timur. Hal ini terjadi karena terminal sebenarnya, yaitu di Lamawalang tidak cukup efektif dipakai menunggu penumpang.

Larantuka adalah kota sempit dengan garis perkotaan yang memanjang dengan pantai sebagai batas bawah dan kaki bukit -gunung Ile Mandiri sebagai batas atas, membutuhkan sentuhan ektra dan cara yang unik dalam membuat penataan. Pemerintah Kabupaten Flores Timur dalam misi “Kota Menata “ tentu sudah harus memikirkan hal itu.

Langkah Menata Kota yang telah lama hidup dengan identitas sendiri ini tidak boleh dengan gegabah. Ada banyak yang mesti dipikirkan dan dipertimbangan matang. Beberapa bulan lalu, ada begitu banyak penolakan terhadap rencana pembangunnan gedung DPRD Flores Timur yang baru. Bisa saja dengan pemindahan gedung DPRD itu, lokasi gedung yang sekarang dijadikan sebagai terminal. Saat ini pemerintah juga sedang merenovasi taman Herman Fernandez, yang berdekatan dengan terminal bayangan itu. Apabila renovasi selesai, dan terminal bayangan itu tak urung bergeser, renovasi dalam konteks Kota Menata itu, tidak lebih sekadar membangun baru ketimbang memperoleh nilai baru yang lebih bagus, mengingat membangun sebuah ikon adalah  tentang membangun sebuah nilai ( semacam menghidupkan kembali peradaban di mana Herman Fernandes hidup).

Saat ini juga Pemerintah sedang merenovasi Rujab Bupati Flotim. Kehadiran terminal itu juga bukan hal baik, karena Ia akan menjadi pemandangan sebelum tetamu bertandang ke Rujab. Di samping itu, terminal juga terletak berdekatan dengan taman kota Larantuka. Taman adalah bagian penting dalam konsep penataan sebuah kota. Apalagi saat ini pemerintah juga sedang bercanang membuat Kota Larantuka yang ramah anak ( pertemuan stakeholder perlindungan anak).

Agar hal itu tidak menjadi semacam paradoks pemerintah sudah semestinya menganggap keberadaan terminal bayangan itu sebagai suatu masalah, sehingga masalah itu bisa dicari solusinya. Entah dengan mempertegas aturan pemakaian terminal Lamawalang sebagai mana mestinya atau pun dengan  membangun terminal baru dengan pertimbangan efektif dan rasional yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Masyarakat Flores Timur menginginkan kota yang baik dan indah. Dalam suasana kota yang baik dan indah itu berbagai kebijakan strategis dapat terbantu untuk berjalan dengab baik. Pariwisata misalnya, dan lain-lain.


Comments

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal

KUANTUM SENJA