Ada apa dengan Prabowo?
(Diazyanto Ryan)
Kepergian
Prabowo menuju Istana dan memilih menjadi bagian dari sana, telah meninggalkan
pilu mendalam bagi orang-orang yang selama ini mendukung dia. Ada banyak orang
kritis, berpikiran cerdas, dan namun tidak punya kesempatan untuk berkoar dan
didengar. Prabowo punya partai Gerindra, ada Fadli di sana yang siap
berkoar-koar menentang segala kebijakan penguasa yang dirasa merugikan
masyarakat. Kini, seiring Prabowo pergi Fadli pun akan diam tak ada lagi
celoteh si tukang nyinyir yang bikin kalang kabut, para penjawab kesalahan
pemerintah.
Satu
–satunya yang kami punya sekarang hanya PKS, partai biasa-biasa saja dengan
komitmen tegas berdiri di luar pemerintah. Barangkali di tengah jalan nanti,
partai ini akan memunculkan tukang nyinyir baru, sebagai penodong pemerintah
apabila di jalan salah. Juga Rocki Gerung, Fahri dan lainnya, namun apa boleh
buat, meskipun mereka punya kekuatan untuk didengar, tapi mereka hanya akan didengar melalui saluran televisi. Itu pun, jika media tidak dibungkam.
Politik
Indonesia, selalu dalam irama yang sukar ditebak. Sepuluh tahun berada di luar
pemerintah, Prabowo kini memilih masuk ke dalam pemerintah. Kata Dia, kalau mau
membantu ya harus berada di dalam. Kata Rocky (CNN), Prabowo itu punya surplus
ide karena itu akan lebih baik dia berada di luar pemerintah. Barangkali Prabowo lupa, bahwa dia sudah
begitu banyak membantu pemerintah. Jokowi boleh saja berbangga diri dengan
prestasi yang dibuatnya periode lalu. Tetapi kerasnya oposisi waktu itu jugalah
yang membuat pemerintah ini berjalan baik. Bayangkan kalau tidak ada oposisi
waktu itu, semua kebijakan dibuat dan diselanggarakan tanpa kontrol. Apa tidak
kagok?
Di
dunia ini, meskipun ada begitu banyak penjahat dan jenis kejahatannya, metode
membungkam hanya ada dua. Yaitu dengan mengancam dan menggunakan kekerasan dan
dengan cara memberi kenyamanan untuk tidak berbicara. Prabowo rupanya tak bisa
diancam, solusinya adalah kenyamanan sebagai mitra koalisi. Gerindra akan diam
terhadap seluruh kebijakan, setuju dengan semua solusi dan yang paling
menjengkelkan mereka akan memuji segala tindakan.
46 % masyarakat Indonesia yang memilih Prabowo
waktu itu, memilih Prabowo dengan cinta. Sebagai pemilih Prabowo ada sebagian
masyarakat yang merasa Prabowo tetap kalah, tapi tetap memilih Prabowo (baca:
Prabowo Presiden). Karena itu keputusan Prabowo untuk menjadi koalisi bukan
saja membuat jengkel seluruh pendukung pemerintah, namun juga telah melukai
hati para pendukungnya. Politik memang sukar ditebak, tak ada lawan dan kawan
abadi dalam politik, tetapi Prabowo berhasil membuat kami mencintainya lewat
politik. Tak ada cinta yang kekal, ia akan memudar seiring perginya Prabowo.
Apabila ini, semata untuk kesempatan 2024, maka pemilihmu bukan kami lagi.
Negeri
Indonesia butuh penyangga yang seimbang. Prabowo adalah sosok yang seimbang
untuk menjaga perjalanan Indonesia tetap stabil. Gerindra adalah partai yang
elegan. Partai ini tumbuh sebagai partai yang memberi harapan akan konsep
politik, akan masa lalu yang payah, masa kini yang menjengkelkan dan masa depan
yang kian tidak pasti. Gerindra bersama Prabowo telah merasuki segenap elemen
masyarakat dengan kesenangan dalam menonton berita politik dan diskusi dan
debat politik pada pertemuan pertemuan
masyarakat tanpa oang orang itu sadari. Tanpa Prabowo, pembicaraan politik
bukanlah hal bebas dan menyenangkan. Politik telah menjadi dialektika di lorong sekolah, di rumah, tempat ibadah,
emperan toko, dan di tempat arisan pada 5 tahun ini karena Prabowo.
Kini
penyangga itu sudah diambil. Negeri ini akan terseok karena berat sebelah. Yang
merasa ditinggalkan akan bersatu. Yang merasa akan tak dipedulikan akan
bersatu. Negeri ini lahir karena kesamaan nasib. Maka karena kesamaan –kesamaan
itu masyarakat akan bersatu. Seiring perginya Prabowo, akan tersusun sendiri
oposisi.
Selamat
berkoalisi!!

Dia letih menjadi oposisi. Biarkan sekali-kali berkoalisi.
ReplyDelete