Pasar Baru kota Larantuka: sebuah catatan!!

Diawal tulisan ini, saya ajukan apresiasi kepada Bupati dan wakil Bupati Flores Timur yang telah dan sedang merenovasi  pasar baru kota Larantuka dalam tajuk kota menata. Akan tetapi dalam pengajuan apresiasi ini saya juga turut menghadirkan beberapa catatan agar penataan pasar itu sejalan dengan harapan para pedagang tradisional dan pembeli.

Ada esensi yang barangkali terlupa dari penataan pasar tersebut. Kondisi pasar sekarang tidak lagi terlihat ramah bagi para pedagang, khususnya pedagang sayur dan ikan. Mereka kurang mendapat tempat yang layak dari pasar baru yang baru tersebut. Pedagang baju dapat kios mereka dapat emperannya. Hari-hari terakhir mereka terpaksa berjualan berdampingan dengan pekerjaan proyek. 
 

Bangunan pasar baru yang baru jikadi pandang dari berbagai sudut pandang terlihat seperti perumahan. Idealnya pasar tradisional adalah tentang los pasar yang luas. Bupati dan wakil tentu saja pernah berkunjung keluar daerah. Apalagi bupati pernah ke Jepang. Pelajarilah kondisi pasar tradisional yang ada di sana. Saya beri usul, apabila berada di Kupang, datangi saja pasar Oebobo untuk melihat konsep penataan pasar itu. 

Selain tidak ramah bagi pedagang sayur ikan yang tidak lain adalah orang pribumi larantuka, kondisi pasar juga tidak ramah bagi pembeli. Masalahnya adalah ruang parkir yang sempit atau bahkan sebenarnya tidak ada. Tempat parkir yang ada adalah bagian dari badan jalan. papan larangan melintas yang dipasang, bagi saya bermakna ngambang. Setiap hari di jam-jam keramaian pol PP boleh saja melarang pengendara melintas dengan alasan ada larangan.
Tetapi hal urgen sebenarnya bukan pada soal-soal semacam itu. Jalan di samping pasar itu bukan bagian dari pasar,karena pasar berada di dalam pagar dan para pedagang yang menggunakan emperan untuk berjualan dilarang berjualan di situ. Para pengunjung pasar dengan kendaraan pribadi kehilangan tujuan ketika sampai dan melihat kondisi pasar. Mereka lalu memunculkan dalam diri sebentuk keengganan untuk berbelanja. Ada yang tetap belanja itu juga kerena terpaksa. Orang-orang mengeluhkan hal yang sama tentang pasar ini, yakni ketidaknyamanan. Kalau bupati dan wakil bupati sempat mampirlah untuk sekadar mengecek kondisi ini. 

Para pedang tidak jarang harus membawa sayur dan ikan mereka keluar pagar pasar untuk menggapai pembeli. Mereka yang berjualan di dalam pasar sering mengeluhkan sulitnya mendapatkan pembeli. Kata mereka, sebelum renovasi pasar kegiatan jual-beli tidak sesulit sekarang.
 Jika ini alasan,maka jelaslah ada yang salah dalam renovasi pasar yang dilakukan pemerintah. Bagi saya tidak ada jalan lain selain membongkar kembali dan menata pasar dari awal dengan konsep dan makna pasar yang benar. Sejak awal ada dasar berpikir yang terlupa. Bahwa membangun pasar yang maju dan modern (keren) bukan pada jumlah kios, tetapi tentang pembagian ruang berjualan yang baik sehingga baik pedagang dan pembeli punya kenyamanan dalam bertransaksi. 

Para pedagang sayur dan ikan terpaksa harus duduk berdampingan dengan para penjual sabun dan kosmetik. Hal ini juga akan membawa pengaruh terhadap kesehatan. Selain itu kondisi toilet yang berada di dekat penjual ikan dan sayur jugaa bisa jadi polemik tersendiri. Apalagi pada musim hujan nanti kondisi itu akan menimbulkan masalah baru karena kanal sudah tidak terlihat berfungsi sebagai mana mestinya. Mereka yang berjualan ikan dan sayur digadang akan kena imbas, karena  kanal air dibuat melewati mereka. orang- orang yang datang dari luar justru mendapat ruang berjualan di kios-kios. Kios kios yang berjualan pakaian juga mengantung barang jualannya di koridor pasar. Hal itu menggangu. Pengelola pasar sebagai bagian dari pemerintah menjalankan tugas menjaga mengawasi pasar nampak diam saja melihat kondisi yang ada. 

Bagi saya menghadapi kondisi demikian pemerintah harus sedikit lebih peka. Kita sudah di tahun 2019 dan kita masih saja mengeluhkan hal-hal yang sama, yakni pembangunan yang lagi-lagi kurang menyentuh masyarakat. Modernisasi pasar bukan mau menghilangkan para pedagang tradisional tetapi menciptakan ruang berjualan baru bagi mereka agar terlihat lebih elegan. Dengan begitu upaya percepatan kesejahteraan dalam bingkai kota menata bisa kita raih mengingat pasar adalah lokasi strategis bagi keindahan sebuah kota. Taman boleh indah tapi pasar jelek, sama saja dengan kosong(rd).


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MINUM KOPI SORE

kekal

KUANTUM SENJA