Prabowo Presiden
(Marianus Diaz Yanto)
Secara de jure
Joko Widodo adalah presiden Republik Indonesia pasca pilpres 2014, akan tetapi
secara de facto tidak semua penduduk
Indonesia mengamini keadaan itu. Ironi ini muncul sebagai tanggapan penulis
atas hasil survei berbagai lembaga survey untuk kontestasi pilpres 2019 yang
kembali mempertemukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Pada 2014 yang lalu
Joko Widodo berhasil memenangi pertarungan dengan 52% suara berbanding 46%
lebih suara milik Prabowo Subianto. Sedangkan pada rataan hasil survei berbagai
lembaga survei untuk pilpres 2019, ada sekitar 36% masyarakat menginginkan Prabowo presiden Republik
Indonesia.
Dibarengi dengan “konsensus” #2019gantiPresiden, maka
dapat dilihat kebenaran tanggapan
penulis atas realitas itu. 36% apabila dijadikan ukuran dasar, maka tak dapat
di kesampingkan bahwa 36% itu adalah loyalis tanpa batas. Akan tetapi penulis
tidak mengajukan indikasi ini, untuk mengerakan persepsi politik calon
tertentu. Penulis hanya akan mengonfirmasi keberadaan Prabowo dan pengaruhnya
bagi pemerintahan Joko Widodo selama empat tahun berjalan.
Prabawo
dan keseimbangan
Setelah
eleksi dimenangkan oleh Joko widodo, Golkar, PKB,PPP, dan PBB yang sebelumnya berkoalisi mendukung Prabowo beralih menjadi partai
pengusung pemerintah. Meskipun PAN menyumbangkan kadernya menjadi menteri,
mereka tidak secara terang-terangan menyebrang ke kubu pemerintah. Gerindra dan
PKS lah yang pada akhirnya konsisten sebagai oposisi. Peran Gerindra dan PKS memunculkan
dua sosok “tukang nyinyir” Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Kehadiran kedua tokoh
inilah yang menjadikan jalannya pemerintahan Jokowi populer.
Apabila
pemerintahan Joko Wododo dianggap sukses maka selayaknya mengajukan terima
kasih pada tokoh-tokoh tersebut. Sebelum tokoh-tokoh pengeritik lain muncul setelah
didepak dari pemerintahan seperti Rizal Ramli, Sudirman Said, Said Didu, kader Demokrat seperti Ferdinand Hutanean
yang getol mengekritik setelah secara resmi mendukung pencapresan Prabowo
Subianto. Setiap kebijakan yang dibuat pemerintah dengan cepat dikritisi,
sehinggah dengan cepat pula dibuat perbaikannya. Selanjutnya pemerintah menjadi
lebih hati-hati dalam membuat kebijakan, agar tidak mudah dikritisi oleh oposisi.
Empat tahun pemerintahan Joko widodo tanpa “nyinyiran”, akan memungkinkan
ketidak seimbangan dalam pengambilan kebijakan dan akan berefek buruk pada
jalanya pemerintahan.
Ada
kemungkinan Jokowi menjadi calon tunggal pada pilpers 2019 ini apabila Prabowo
tidak maju sebagai lawannya. Siapa yang akan menjamin kemungkinan lawan lain,
ketika lebih banyak parpol memutuskan di jalur pemerintahan. Airlangga Hartato
mengatakan pada 2014 lalu, bahwa untuk maju pada bursa pilpres haruslah punya
perhitungan matang. Apabila perhitungan ini berdasarkan ukuran elektabilitas,
elektabilitas siapa yang mampu mendekati Joko Widodo.
Jawaban
untuk keberlangsungan demokrasi ini, hanya pada sosok Prabowo Subianto. Meski
“gamang” haruslah diakui keberadaan calon tunggal merupakan kemunduran bagi
proses demokrasi. Setelah menjamur calon tunggal pada pelaksanaan pilkada,
apakah pilpres dengan segala kebesarannya hanya mempertarungkan seseorang
dengan kotak kosong. Prabowo tentu tidak menginginkan hal itu.
Prabowo
yang Kontroversial
Prabowo
pada Pilpres 2019 ini, tampil sebagai calon yang berbeda. meskipun masih tetap
tidak banyak tampil di TV, dalam berbagai kesempatan semacam Pidato, Konfrensi
pers dll, prabowo terlihat sebagai pribadi yang lebih sopan dan murah senyum.
Hal ini nampak berbeda dari 2014 yang lalu, ketika Beliau digambarkan sebagai
yang garang dan menakutkan. Apapun yang keluar dari Prabowo adalah yang selalu
ditunggu.
Ia menjadi kontroversi dengan segenap
pernyataan dan kritiknya atas bangsa ini dan pemerintahannya. Ia menyebut bahwa
Indonesia akan Bubar, Ia mengatakan bahwa hanya 1 persen yang menguasai seluruh
lahan di Indonesia, kebocoran negara tiap tahun adalah 500 triliun, dan semua pernyataan
viral kemudian menjadi perdebatan diruang publik. Pemerintah boleh saja
menyebut Hoax kepada seluruh aspirasi
dan kemungkinannya yang diajukkan Prabowo di ruang publik. Dalam konsolidasi
internal, pemerintah mungkin juga mengkonfirmasi hal ini sebagai bagian untuk
menciptakan kebijakan. Sebut saja infrastruktur dan dana desa yang getol
dilakoni dan dibanggakan jokowi merupakan yang lahir dari pikiran kritis
seorang Prabowo.
Prabowo
merupakan sosok yang karismatik. Serupanya dengan Jokowi, Prabowo juga kerap
dihujani hinaan dan caci maki. Ia dianggap sebagai pelanggar HAM melalui
argumen-argumen tanpa bukti yang jelas, Ia dikatakan bagian dari satu persen
yang kerap disebut, Ia dibilang tak punya prestasi. Ia dianggap otoriter dan
akan mengulang orde baru. Tapi Prabowo bungkam. Sangkaan itu pun terus membengkak
dan mejadi semacam infeksi bagi para pemilih. Apabila Prabowo bukan sosok
karismatik maka dia tidak akan memberi pengaruh jangka panjang dalam polemik
ini. Apabila Prabowo itu jahat pamornya telah hilang dalam kebencian. Nyatanya dalam
staganasi pemilih , Ia memiliki 36% persen suara yang urung bergeser, meski
pemerintah telah mengumbar data-data kesuksesan.
Prabowo
Presiden
Prabowo maju sebagai capres di 2019 adalah yang ke 2
kalinya, ketiga kalinya bagi keseluruhan keikusertaanya pada pilpres.
Orang-orang menganggap prabowo adalah capres abadi. Majunya Prabowo Subianto
menimbulkan kesenangan tersendiri bagi pendukung setianya. Tidak dapat dipungkiri,
beliau merupakan Presiden bagi mereka yang tidak mengakui kemenangan Jokowi.
Ada alur tersendiri pagi loyalis Prabowo. Presiden Jokowi adalah fakta,
sedangkan Prabowo Presiden merupakan fiksi yang ingin dibuat menjadi kenyataan,
kalaupun tidak kunjung menyata, Beliau adalah presiden dalam benak
pendukungnya.
Gagasan ini mungkin saja dapat menciptakan polemik
apabila dipahami secara keliru. “prabowo presiden”, merupakan refleksi atas
otentisitas Prabowo yang memilih jalur demokrasi untuk menjadi pemimpin
tertinggi bangsa indonesia. Apabila demokrasi dianggap sebagai kemajuan
politik, maka kembalinya Prabowo ke dalam konstestasi merupakan prestasi untuk
menjaga demokrasi tetap berlangsung. Sejarah pernah menawarkan Prabowo untuk
mengambil langkah kudeta di 1998, tetapi dia menolak.
Pada akhirnya, politik
hanya akan menghadirkan kesenjangan rasionalitas apabila yang diperbenturkan
hanya tentang yang baik dan yang jahat. Pembunuhan karakter di level bawa, cenderung akan membunuh
keinginan orang untuk menilai dengan penuh pertimbangan. Setiap kali di ruang
publik, politisi yang merasa hebat selalu berusaha memberikan pelajaran politik
terhadap masyarakat. Masyarakat yang diam, diangkat sebagai pemilih yang bisu.
Satu-satunya yang diperebutkan adalah adalah pemilih dengan rasionalitas
tinggi. Apa Prabowo bisa?
Sekian...
Babae politik skrg sudah tiru drama korea. Nonton drama Jang Ok Jung. Itu kisah sama kayak drama pilpres tahun ini.
ReplyDeletedrama itu bisa jadi terinspirasi dari kisah Prabowo
ReplyDeleteYang benar sa? Sebelum ada nih perseteruan politik, tuh drama sudah ada.
ReplyDelete